Akankah Dia Yang Terpilih……………..

Akankah Dia Yang Terpilih……………..

            Pada saat fajar menyingsing, aku permisi kepada teman-temanku, dan aku beri tahu mereka bahwa hari ini ada pengumuman lomba puisi antar kelas, karena aku menjabat bagian bahasa dan acara itu adalah salah satu acara bagian bahasa, maka aku yang harus mengumumkan.

            Lonceng dibunyikan, aku sudah berdiri di depan pendapa (tempat memberi pengumuman), semua siswa berlarian menuju pendapa dan sekejap saja semua sudah berkumpul, kecuali ada satu siswi yang terlihat masih asyik membaca di depan taman perpustakaan. “Siapa dia? Kelas berapa?”, dengan spontan aku bertanya. “Najwa kak, siswi kelas satu.” Jawab salah satu siswa. “ooo…..Najwa, berani sekali dia,,” aku langsung mengangkat suara”Najwa….”. itu pertama kalinya aku memanggil namanya. Dan tanpa rasa bersalah dengan mukanya yang manis plus dengan santai ia berjalan menuju pendapa. Saat itu rasanya, aku ingin memakinya karna sudah lancang tak menghiraukan perintah OSIS, itupun tidak hanya sekali ia lakukan tapi berkali-kali. Aku kesal.

            Sejenak aku terdiam menenangkan diri, dengan mengambil nafas panjang lalu,”Seminggu lagi ada perlombaan puisi antar kelas, bagi yang berminat, mulai besok silahkan mendaftar ke saya”. “Lomba Puisi!!!!!!???”, tiba-tiba terdengar suara lantang dari barisan belakang yang membuat semuanya terdiam dan dengan spontan menengok ke arah sumber suara. “Ahhh,,, lagi-lagi Najwa berulah”, ada apa????”. “Maafff,kak, bukan bermaksud, aku hanya merasa senang sekali dengan diakannya lomba puisi, karna aku sangat menyukai puisi”. “baguslah kalo begitu”,jawabku dengan nada ketus. Tapi, aku sempat penasaran seberapa bagusnya dia dalam berpuisi.”Baiklah, semuanya silahkan kembali ke kelas masing-masing” aku menutup pengumuman.

            Baru satu hari diumumkan, terlihat banyak siswa yang berminat mengikuti lomba tengah sibuk latihan. Saat aku bersama pengurus OSIS lainnya, mempersiapkan tempat perlombaan, terdengar suara yang sangat merdu di ruang sebelah. Semakin lama aku mendengar suara itu, jantungku berdetak kencang, deg….deg….deg….”. siapa sih…????? Tapi, aku gengsi untuk melihat langsung. Tiba-tiba dari ruang sebelah muncul Rina salah satu pengurus OSIS bagian keputrian. “Ahh, Rina,,, ooo…..ternyata kamu rin, kamu ada bakat juga berpuisi”. “apaan sih, ky, siapa juga yang baca puisi, itu suara Najwa lagi latihan”. Lagi-lagi nama itu disebut, suaranya begitu indah membuat jantungku berdetak, tapi orangnya membuatku sangat kesal jika ingat kelakuaannya yang sedikit aneh…

            Aku berjalan kearah perpustakaan. Dan aku tak pernah melihat seseorang sedang membaca selain Najwa.., saat aku berjalan ke kantin,,, terlihat dari kejauhan Najwa sedang bercanda dengan teman-temannya, aku terlihat seperti orang gila, tersenyum sendiri, melihat tingkahnya yang lucu dan agak sedikit aneh. Seakan-akan setiap gerakanku selalu tearah kesana. Aku heran kenapa yang membuat jantung berdebar itu dia, orangnya cuek, ngeselin, nyebelin, banyak tingkah, kagak ada lembutnya sama sekali bukan tipeku banget. (siapa juga yang mau sama dia).

            Zaky, dia sosok pemuda yang sangat sempurna dan hamper semua siswa mengetahuinya. Tidak hanya otaknya yang encer tapi dia juga memiliki charisma yang tinggi, itu membuat para siswi terkagum-kagum terhadapnya, tidak terkecuali. Termasuk najwa juga sangat mengaguminya, tapi Najwa bukanlah perempuan yang suka memperlihatkan kekaguman atau perhatiannya pada seseorang seperti perempuan pada umumnya. Zaky itu tak laen adalah aku (hehehe pede banget gue).

            Tak terasa, kejadian itu sudah begitu lama, sekarang aku sudah mengabdi di sekolah ini selama setahun dan Najwa sudah kelas tiga. Dia tetep tidak berubah dengan sifat dan tingkahnya yang aneh, yang terkadang membuatku tersenyum dan tertawa sendiri (udah gila kale).

            Seusai sholat shubuh seperti biasa aku tidak langsung kembali ke rumah. Aku terdiam di masjid, rasanya hari ini tidak seperti hari biasanya,, karna mungkin hari libur aku tidak disibukkan oleh materi yang biasa dipersiapkan sebelum mengajar. Hapeku bordering,, “Bapak Yayasan???, tak seperti biasanya beliau menelponku, kuangkat segera dan…. Dadaku terasa beku, mulutku kaku…” aku segera bergegas keluar masjid dan menuju ke rumah bapak kyai yang sekaligus ketua yayasan sekolah dimana aku sekarang sedang mengabdi,, kebetulan rumah beliau tidak terlalu jauh dari masjid. Sepanjang jalan hatiku berdebar, penasaran kenapa bapak yayasan memanggilku tiba-tiba???!!!.

            “Zaky, silahkan duduk, bapak mau menyampaikan hal penting yang menyangkut masa depan putriku”.

            “lia maksud bapak, masalah apa pak??,”

            “Bapak sudah lama ingin berbicara dengan kamu tentang masalah ini, tapi belum ada waktu yang tepat dan hari ini Insya Allah waktu yang tepat. Putri bapak sudah dewasa, bapak ingin menjodohkan kamu dengannya, dan lia tidak keberatan tentang hal ini, malah dia sangat senang”.

            “dijodohkan, pak? Dengan lia?(emang dia sangat lembut dan santun, tapi….)”

            “ gimana, ky! Apa kamu setuju???”

            “saya tidak berani menolak permintaan bapak, dan saya juga tahu lia adalah perempuan yang sangat baik, tapi mungkin saya minta waktu untuk mempertimbangkan hal ini”,.

            Semalaman aku tak bisa tidur meskipun mata ini ingin sekali aku memejamkannya,  tapi kegundahan hati ini membuat mata ini terpejam. Kubolak-balikkan badanku dan sesekali aku duduk, dan kembali terbaring hingga waktu berjalan sampai sepertiga malam terakhir, aku tunaikan sholat istikhoroh, memohon petunjuk dan jalan atas masalah yang sedang aku hadapi sekarang.

            Kokok ayam akhirnya terdengar, akan tetapi gundah hati ini masih juga bersemanyam di tubuh ini. Jantungku kembali berdebar-debar, memikirkan jawaban apa yang akan aku sampaikan kepada pak kyai.

            “Zaky…Zaky…” suara bising membangunanku dari kegundahan.

            “Ada apa, ris??”

            “ada surat dari salah satu universitas terkenal di Jakarta mengirimkan surat padamu, kelihatannya kamu diterima kuliah di sana”.

            “Alhamdulillah, ya Robb. Mungkinkah ini jawaban???”

Aku bergegas ke rumah pak kyai, bermaksud menyampaikan hal ini (dalam hati berkata ; akhirnya ada alasan juga untuk menolak). Sebelum aku mulai berbicara, pak kyai sudah lebih dulu mendengar berita tentang beasiswa kuliahku, dan dia memintaku untuk memilih, aku memutuskan untuk mengambil kesempatan kuliah di Jakarta. Pak kyai pun menerima keputusan yang aku ambil, dan perasaanku pun sangat lega.

            Beberapa hari sejak aku pergi ke Jakarta. Aku mulai terserang virus obsesi nikah, mungkin itu disebabkan teman seangkatanku sudah banyak yang menikah, itu membuat aku iri. Kadang-kadang aku teringat lagi dengan adek kelasku yang super aneh tapi sangat lucu, kembali aku tersenyum sendiri.. “sekarang ia dimana??”aku bertanya dalam hati, seakan aku merasa rindu dengan tingkah lucunya. Astaghfirullah, aku terbangun dari lamunanku..

            Akupun pergi kemasjid untuk menunaikan sholat maghrib berjama’ah, bersama teman se-kosku. Biasanya setelah sholat kami berdiskusi tentang permasalahan yang kami hadapi di perkuliahan, maklum, kos kami sangat sempit kalo buat berkumpul serasa sesak tak dapat bernafas. Tanpa tersadar mulut ini bergerak “ aku pengen nikah, kawan???” serentak mereka mentertawakan aku, malahan ada yang berkata,”kamu ini aneh, ky, dulu aja mau dijodohkan dengan putri kyai kagak mau, sekarang ngebet nikah”.

            Aku tergagap, aku tak bisa berfikir lagi apa yang harus aku katakana, aku hanya bisa nyengir-nyengir dengan memasang muka abu-abu. Sepulang dari masjid, aku mengecam diriku sendiri untuk tidak memikirkan nikah, focus dengan kuliah yang tinggal selangkah lagi. Aku mulai bertawakal.

            Tatkala matahari terbit, segera ku hadapkan wajahku kearah jendela kamar agar wajah ini terkena sinar mentari pagi. Pagi ini mentari bersinar terang. Sementara itu, mulutku terus memanjatkan do’a, memohon ampun kepada Allah dan semoga memberiku ketentraman hati.

            Seusai sholat dhuhur, aku bergegas pergi ke kampus karena setengah jam lagi, perkulihaan di mulai. Takut terlambat (hehehe). Ini kuliah terakhir yang aku ambil pada semester ini, sebentar lagi aku lulus setelah melewati ujian semester. Tak terasa 4 tahun berakhir sangat cepat. Karena kampus ini sedikit berbeda aku tak perlu menulis skripsi di akhir perkuliahan.

            “Zaky, besok ada seminar di blok M, mau ikut nggak?,”

            “kamu mau kesana, ris? Seminar tentang apa sih? Seru nggak?”

            “wah, seminar ini sangat cocok bagi orang yang terobsesi nikah,  seperti kamu, ky”.

            “eitsss… ngledek nih, emang situ nggak mau nikah!,,tapi boleh juga lagian besok aku kosong seharian”.

            Seminar di  mulai jam 9, aku berangkat dari kos jam 7 (rajin amat mas..). biar enggak kena macet dan dapat kursi paling depan, biar focus githu,.

            Seminar berlangsung begitu cepat, dua jam berlalu. Aku langsung meninggalkan tempat dan secepat mungkin berjalan agar dapat mengejar sholat dhuhur di kos. Aku buru-buru mau turun dari escalator, tapi kelihatannya eskalatornya lagi rusak, kecepatan lajunya melebihi batas normal, tak sedikit orang ingin cepat turun tapi takut. Saat aku mendongakkan kepalaku, dari kejauhan terlihat sosok perempuan yang taka sing lagi bagi mataku. Tapi aku tak ingat siapa dia, banyak orang disekelilinganya yang membuatnya semakin buram dari mataku. “Najwa, kamu kenal dia..”. ahh, suara itu… nama itu…. kembali mendebarkan jantung ini. Mataku langsung mencari-cari dari mana suara itu. “Zaky,, cepetan”..tiba faris mengacaukan pencarianku. Apa dia ada di Jakarta, (emang kalo jodoh nggak bakal kemana, hehehe).

            Penasaran menyelimuti pikiranku sepanjang perjalanan pulang. Waktu terasa berbalik lagi ke masa lalu, aku terbayang masa SMA dulu, dia begitu membuat hatiku beku.

            Di lain sisi, Najwa merasa heran, kenapa Zaky ada di Jakarta. Apa mungkin dia dan istrinya kuliah di Jakarta, tapi jika itu benar aku tak melihat lia berada di samping dia tadi.  Ataukah dia nggak jadi menikah dengan lia. Najwa semakin bertanya-tanya. Pemuda yang ia kagumi itu membuatnya agak terluka dengan pernikahannya dengan putri pak kyai yang sifatnya selisih 180 derajat dengan sifatnya.

            Selanjutnya, Najwa di minta oleh salah satu dosen kampusnya untuk menjadi asisten pribadinya, dan sebentar lagi ia ke madinah untuk menemani dosennya studi banding. Memang dia pintar dalam berbahasa dari SMA di senang mempelajari bahasa asing.

            Sejak kejadian escalator itu, terakhir kalinya aku mendengar nama itu. Aku lulus. Alhamdulillah, aku dapat beasiswa S2 ke Madinah. Yah, otakku emang agak lumayan encer githu (somboooongg). Aku coba melupakan masa lalu, berharap ketika di madinah aku mendapatkan sosok perempuan yang kembali mendebarkan jantungku. Eitsss… kuliah dulu, belajar dulu. Aku kembali meluruskan niatku pergi ke Madinah.

            Pada akhir tahun 2010 M, aku pergi ke Madinah untuk melanjutkan studi S2. Di sana aku bertemu dengan seorang kakek yang sudah lanjut usianya di masjid nabawi. Dari gaya bicaranya aku tahu bahwa dia berasal dari negeriku, maka kuucapkan salam kepadanya. Tiba-tiba dia bertanya kepadaku,

            “siapa engkau?”

            “Zaky bin Abdullah”, jawabku.

Tiba-tiba dia mengangkat suaranya dan berkata: “dari negeri kami? Selamat datang, semoga Allah memberkatimu. Aku Harits bin bashiir”. Aku merasa senang meskipun aku tidak tahu persis siapa bapak itu yang jelas aku menemukan orang yang berasal dari negeriku tercinta (Indonesia).

            Selanjutnya, dia mengajakku mampir di rumahnya. Dia meminta itu dengan sangat, dan aku memenuhi ajakannya. Setelah aku duduk, dia mengucapkan selamat kepadaku sekali lagi, kemudian kami berbincang-bincang.

            Aku bertanya:”paman, apakah anda tinggal di Madinah ini sudah lama??”.

Dia menjawab :”aku tinggal di negeri yang baik ini sejak tahun 1984 M. dan mengapa aku sampai tinggal di sini, itu ada ceritanya.

            “bagaimana ceritanya, paman?” tanyaku. “betapa banyak pelajaran dan I’tibar dalam cerita-cerita dan kejadian-kejadian, bukan begitu?”.

            Dia berkata :”aku bersaksi kepada Allah bahwa segala urusan adalah milik Allah, sebelum dan sesudahnya”.

Selanjutnya, mulailah dia bercerita panjanglebar mulai dari perjalanan pertama menuju kota Rasulullah Saw., rintangan-rintangan yang dia hadapi sampai pada akhirnya dia bercerita tentang putrinya yang menjadi dosen di salah satu kampus di Indonesia, dan kebetulan putrinya saat ini sedang studi banding di sini.

            “sebentar lagi matahari terbenam, putriku akan pulang, tunggulah sebentar lagi”, pintanya.

            “apa gerangan maksud paman dengan meminta saya tinggal di sini sebentar lagi?”. Jawabku penasaran.

Paman tersenyum, seraya berkata:”paman tak ada maksud jahat, apa yang sedang kau pikirkan anakku?”.

            “tidak paman, aku hanya berfikir bahwa paman akan mengenalkan saya dengan putri paman”, jawabku lugu.

            “kamu salah, paman bukan mengenalkan kamu dengan putri kesayangan paman, usia dia 15 tahun lebih tua dari kamu,”

            “lalu…..” aku penasaran dengan maksud paman.

            “paman akan mengenalkan kamu dengan asistennya yang sangat manis, paman tahu wajahmu seperti sedang mencari pendamping, dan dia juga berasal dari negerimu”, jelasnya.

Tak lama setelah itu, putri paman yang diceritakan itu dating, dan benar terlihat disampingnya ada seorang perempuan yang manis. Aku terperanjat. Sepertinya dia sudah tidak asing lagi bagiku. Senyumnya…

            “ayah, siapa pemuda ini dan ngapain dia berada di sini?”

            “namanya Zaky, mahasiswa S2”, jawabnya singkat.

Saat nama Zaky di sebut, Najwa kaget. Tapi dia menutupinya.

            “duduklah anakku, ayah mau bicara”.

            “ayah, bermaksud memperkenalkan asistenmu yang manis itu dengan pemuda ini”.

Dengan spontan Zaky dan Najwa saling melihat satu sama lain dengan tatapan heran dan kaget. Jantungku berdetak kencang, badanku berubah menjadi terasa sangat dingin dan hamper membeku. Apa ini sebuah cerita yang disiapkan olehmu ya Allah. Tapi, wajah Najwa terlihat bingung. Seperti ada pertanyaan yang tersembunyi yang ingin diungkapkan. Tetap saja mulutnya terkunci rapat.

            “paman, aku hanya menginginkan pendamping hidup yang baik, tapi aku juga seperti perempuan lainnya yang tak mau di duakan”, jelas rahma.

            “maksud kamu apa, nak. Apa kalian sudah saling mengenal satu sama lain?”

            “saya kenal dengan Najwa paman, dia adalah adik kelas saya semasa di SMA dulu, tapi saya tidak mengerti apa maksud perkataan dia, bahwa dia tidak mau di duakan”, jawabku.

            “bukannya kamu sudah menikah dengan putri pak kyai rahmat???,”.tanyanya.

            “benarkah, yang dikatakan Najwa wahai pemuda??’, paman juga penasaran.

Ternyata selama ini Najwa mengira aku menikah dengan lia. Akhirnya, aku ceritakan semuanya saat itu. Setelah aku bercerita, terlihat perubahan wajah Najwa semula curiga berubah menjadi sangat ceria. Apa itu pertanda?.

            “kalo sudah begini, paman serahkan kepada Najwa.”

            “kalo memang itu baik, saya akan menerimanya paman,”

Es batu yang membuatku beku, kini meleleh dan suasana menjadi begitu hangat. Sosok perempuan yang selama ini selalu terbayang, ada dihadapanku dan yang lebih menakjubkan, kini dia sangat lembut dan manis. Allah telah memilih kota Rasulullah Saw., ini tempat pertemuan kami berdua.

 Sepulang dari rumah paman, keadaanku berubah seakan-akan ada petir yang menyambar. Aku bahagia. Teringat peribahasa “ sekali mendayung dua, tiga, pulau terlampaui” (hehehe). Gelar master didapat, pendamping hidup pun didapat. Yang paling membahagiakan adalah aku mendapat peringkat mumtaz pertama dan perempuan yang akan menjadi pendamping adalah perempuan yang sudah lama ada di hati.

 oleh : Ana Rahmawati

Posted on 28 Januari 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: