Kesatuan Bahasa

oleh : Umi Khasanah

KESANTUNAN EJAAN BAHASA INDONESIA

BAB I

 PENDAHULUAN

                        Kalau kita melihat perkembangan bahasa Indonesia sejak dulu sampai sekarang tidak trlepas dari perkembangan ejaannya. Kita ketahui bahwa beberapa ratus tahun yang lalu bahasa Indonesia belum disebut sebagai bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Nama Indonesia ini baru datang kemudian.

            Kita masih ingat padazaman kerajaan Sriwijaya, ada beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa Melayu kuno dengan memakai huruf pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa sanskerta, seperti halnya juga bahasa jawa kuno. Jadi bahasa pada waktu itu belum menggunakan huruf latin. Bahasa melayu kuno ini kemudian berkembang pada beberapa tenpat di Indonesia. Terutama pada masa hindu dan masa awal kedatangan Islam (abad ke-13). Pedagang-pedagang melayu yang berkeliling di Indonesia menggunakan bahasa melayu sebagai lingua franca, yakni bahasa komunikasi dalam perdagangan, pengajaran agama, serta hubungan antar negara dalam bidang ekonomi dan politik.

            Ejaan latin untuk bahasa Melayu mulai ditulis oleh Pigafetta, selanjutnya oleh de Houtman, casper Wiltens, Sebastianus Danceart, dan Joannes Roman. Setelah tiga abad kemudian ejaan ini baru mendapat perhatian  dengan ditetapkannya ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901.

Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

1.      Huruf j untuk menuliskan kata-kata jangpajahsajang, dsb.

2.      Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroeitoeoemoer, dsb.

3.      Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer’akalta’pa’dinamai’, dsb.

Ejaan Soewandi

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini lebih dikenal dengan nama ejaan Republik. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

1.      Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guruituumur, dsb.

2.      Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata takpakrakjat, dsb.

3.      Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2ber-jalan2ke-barat2-an.

4.      Awalan di– dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan

BAB II

 KESANTUNAN EJAAN

A.     PENGERTIAN EJAAN

Ejaan adalah keseluruhan peraturan melambangkan bunyi ujaran, pemisahan dan penggabungan kata, penulisan kata, huruf, dan tanda baca. Perkembangan ejaan di Indonesia diawali dengan ejaan van Ophuijsen. Ejaan van Ophuijsen ditetapkan sebagai ejaan bahasa melayu pada 1901. Ciri khas yang menonjol adalah penggunaan huruf j untuk menuliskan kata-kata jang dan sajang, penggunaan huruf oe untuk menuliskan kata goeroe dan kamoe, serta digunakannya tanda diakritik dan trema pada kata ma’moer dan do’a.

B. PEMAKAIAN HURUF

1. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf

yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya

Huruf

Nama

Huruf

Nama

Huruf

Nama

A a

B b

C c

D d

E e

F f

G g

H h

I i

A

be

ce

de

e

ef

ge

ha

i

J j

K k

L l

M m

N n

O o

P p

Q q

R r

je

ka

el

em

en

o

pe

ki

er

S s

T t

U u

V v

W w

X x

Y y

Z z

es

te

u

ve

we

eks

ye

zet

2. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a,e,i,o dan u.

3. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

4. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan aiau, dan oi.

5. Gabungan – Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.

6. Pemenggalan Kata

a.       Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

1). Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara             kedua huruf vokal itu.

Misalnya : ma-in, sa-at, bu-ah.

2). Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, diantara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Misalnya : ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khi

   3).  Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

4). Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya : in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las

b.      Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

      Misalnya :makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

Catatan :

a.       Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.

b.       Akhiran –i tidak dipenggal. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 1.)

c.        Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut Misalnya : te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

c.       Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) diantara unsur–unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah la,lb,lc, dan ld diatas.

Misalnya :bio-grafi, bi-o-grafi, foto-grafi,

Keterangan :

Nama orang, badan hokum dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.

C. PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

1. Huruf Kapital atau Huruf Besar

a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

     Misalnya :Dia mengantuk.

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

      Misalnya :Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

      Misalnya :Allah, yang Maha kuasa, Yang Maha Pengasih,

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang.

      Misalnya :Mahaputra Yamin, Sultan Hasanudin,

      Huruf kapital tidak di pakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

      Misalnya :Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat.

      Misalnya :Wakil Presiden Jusuf Kalla,

      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi atau nama tempat.

      Misalnya :Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?

f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya :Amir Hamzah,

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya :mesin diesel, 10 volt, 5 ampere

gHuruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa.

Misalnya :bangsa Indonesia, suku Jawa, bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya :mengindonesiakan kata asing

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah.

Misalnya :tahun Hijriah,

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya :Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya :Asia Tenggara,

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya :Berlayar ke teluk,

j. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya :Garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon

k.      Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama semua unsur nama Negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali seperti kata dan.

Misalnya :Republik Indonesia,

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi megara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya :Menjadi sebuah republik,

l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya :Perserikatan Bangsa – Bangsa,

m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsure kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya :Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

n.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya :Dr. Doktor

o.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak. Adik, dan pama yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya :“Kapan Bapak berangkat?”Tanya Haro.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan

kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya :Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

p.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kataganti Anda.

Misalnya :Sudahkan Anda tahu?

2. Huruf Miring

a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya :Majalah Bahasa dan Kesutraan,

b. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya :Huruf pertama kata abad ialah a.

c.Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata ilmiah atau ungkapan asing yang telah disesuaikan ejaanya.

Misalnya :Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mengostana.

D. PENULISAN KATA

1.      Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya :Ibu percaya bahwa engkau tahu. Kantor pajak penuh sesak.

2.      Kata turunan

a.       Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis seramgkai dengan kata dasarnya

Misalnya :Bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

b.       Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keteranga tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5)

Misalnya :Bertepuk tangan,

c.        Jika bentuk dasar berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung Bab V, Pasal E, Ayat 5)

Misalnya :Menggarisbawahi,

d.       Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya Adipati,

3.      Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung

Misalnya :Anak-anak,buku-buku,

4. Gabungan kata

a.                        Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya :Duta besar,

b.           Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

Misalnya :Alat pandang-dengar,

c.        Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

Misalnya :Acapkali, adakalnya, akhirulkalam, alhamdulillah

5. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya

Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangakai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya: Apa yang kumiliki boleh kauambil.

6. Kata depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)

Misalnya:Kain itu terletak di dalam lemari.

7. Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil

8. Partikel

a.       Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:Bacalah buku itu baik-baik

b.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluianya.

Misalnya:Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.

Catatan: Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.

Misalnya:Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.

c.       Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’ dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

Misalnya:Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.

9. Singkatan dan Akronim

a.       Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih.

1). Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat didikuti dengan tanda titik.

Misalnya:A.S. Kramawijaya

2). Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya: DPR Dewan Perwakilan Rakyat

3). Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih didikuti satu tanda titik.

Misalnya: dll. dan lain-lain

4). Lambang kimia, singkaian satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya: Cu kuprum

b.      Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlukan sebagai kata.

1). Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf capital.

Misalnya:ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

2). Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deet kata ditulis dengan huruf awal huruf capital.

Misalnya:Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

3). Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf keci.

Misalnya: pemilu Pemilihan umum

Catatan: Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokaldan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

10. Angkatan dan Lambang Bilangan

a.       Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Angka Arab : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9

Angka Romawi :I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, XL(50), C(100), D(500), M(1.000), V(5.000),

Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.

b.      Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang,berat,luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.

Misalnya:0,5 sentimeter 1 jam 20 menit

      5 kilogram pukul 15.00

c.       Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan rumah, apartemen, atau kamar, pada alamat

Misalnya:Jalan Tanah Abang I No.15 Hotel Indonesia, Kamar 169

d.       Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

Misalnya : Bab X, Pasal 5, halaman 252 Surat Yasin:9

e.        Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

1). Bilangan utuh

Misalnya : dua belas 12

2). Bilangan pecahan

Misalnya :Setengah ½

f.        Penulisan lambanng bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya :Paku Buwono X; pada awal abad XX;

g.        Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang

berikut.(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5).

Misalnya:tahun 50-an atau tahun lima puluhan

h.      Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.

Misalnya :Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

i.        Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya : Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

j.         Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

k.      Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

l.  Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat. Misalnya : Saya lampirkan tanda terima uang sebesar RP999,75 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

E. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahsa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Balanda atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I’exploitation de I’homme par, I’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia . Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

F. PEMAKAIAN TANDA BACA

1. Tanda Titik (.)

a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

e. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisannya yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

f.1) Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

2) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

g. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

h. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.

2. Tanda Koma ( , )

a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

c.1) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

2) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itujadilagi pulameskipun begituakan tetapi.

e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat didalam kalimat.

f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung bagian lain dalam kalimat. (Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M).

g. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah negeri yang ditulis berurutan.

h. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

i. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

j. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

k. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

l. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)

m. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

n. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

3. Tanda Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

b. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

4. Tanda Titik Dua (:)

a.1) Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

2). Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

b. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

c. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

d. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

5. Tanda Hubung ( – )

a. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya

atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

c. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

d. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.

f. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya

yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan –an, (iv) singkatan berhuruf capital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap.

g. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsure bahasa asing.

6. Tanda Pisah (-)

a. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

b. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.

7. Tanda Elipsis (…)

a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

8. Tanda Tanya (?)

a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

b. Tanda Tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

9.Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

10. Tanda Kurung ((…))

Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

a.       Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

b. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

c.Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.

11. Tanda Kurung Siku ([…])

Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung

a.      Tanda Petik (“…”)

1). Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

2). Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

3). Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

4). Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengahkiri petikan langsung.

5).Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

13. Tanda Petik tunggal (‘…’)

a.       Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

b.      Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (lihat pemakaian tanda kurung , Bab V, Pasal j.)

14. Tanda Garis Miring ( / )

a. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwin.

b.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau tiap

15. Tanda penyingkat atau apostrof( ‘)

Tanda penyingkat menunjukan penghilang bagian kata atau bagian angka tahun.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Ejaan bahasa Indonesia sangat penting dalam penentuan kesamaan pelafalan, bunyi, dan intonasi sebuah bacaan atau teks yang telah disesuaikan dalam kaidah bahasa Indonesia yang bauk dan benar.

2. Ejaan sangat berfungsi untuk memudahkan membaca dalam memahami sebuah bacaan atau teks serta menghindarkan ketidaksamaan persepsi atau maksud bacaan tersebut.

3. Ejaan melambangkan identitas bahasa indonesia yang sudah disepakati oleh lembaga resmi negara.

4. dengan adanya ejaan, sebuah tulisan akan terlihat lebih indah dan teratur.

5. bernilai atau tidaknya sebuah tulisan juga sangat bergantung dengan kesantunan ejaan yang digunakan.

B. KRITIK DAN SARAN

           

            Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menghadapi beberapa kesulitan dalam memperoleh referensi yang dibutuhkan sebagai bahan untuk makalah ini. Oleh karena itu penyusun menyadari makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Namun penuyusun telah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan hasil yang terbaik dalam penyusunan makalah ” Kesantunan Ejaan”.

            Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Daftar Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.

Keraf, Gorys. Diski dan Gaya Bahasa.

Hendy, Zaidan. 1989. Pelajaran Sastra. Jakarta; PT Gramedia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta; Balai Pustaka, 2002.

Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta 1980.  

Posted on 13 April 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: