Cinta

 

 

Cinta, Mahabbah, amore, love, shiteru,lie be, merupakan satu kata fenomenal yang tak habis diperbincangkan, sesuatu yang selalu menjadi perhatian, dan mungkin gaungnya selalu menggema di kehidupan, terutama kehidupan remaja saat ini. 
Nah, berbicara tentang cinta, ada sebuah fenomena yang menarik dan perlu mendapat perhatian dari kita semua, yaitu bagi mereka (remaja-red) jika cinta tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai, maka akan berakhir dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dan mereka kerap menjadikan “pacaran” sebagai wadah dan ajang untuk mengekspresikan rasa cintanya tersebut.

What a freak thing!!! Ingat guys!! Islam gak pernah mengenal ataupun pengen kenalan dengan yang namanya pacaran. Rasulullah mencontohkan bahwa ekspresi cinta yang legal di hadapan Allah hanya dalam bingkai pernikahan. Dengan kata lain, boleh melakukan aktivitas “pacaran” setelah ijab qabul di hadapan penghulu.
Adapun pacaran sebelum menikah, banyak mengandung kuman-kuman berbahaya yang bikin kita kaya akan dosa. Seandainyapun pacaran diniatkan secara mulia untuk mengenal pasangannya yang akan mendampingi bahtera rumah tangga, tetep aja amalan itu nggak bakal lulus sensor dari aturan Allah. Terlalu banyak aktivitas yang menyerempet zina di dalamnya.

Sobat, di mana saja, kapan saja, godaan setan sudah pasti bakal menempatkan akal kita di belakang hawa nafsu. Apalagi dalam aktivitas berpacaran yang memanjakan perasaan. Cinta dan hawa nafsu akan senantiasa hadir dalam diri manusia. Rasa cinta yang mulia akan menjadi tercela tatkala kita membiarkan hawa nafsu mengendalikannya. Nafsu syahwat telah memperalat cinta untuk berbuat maksiat (dikutip dari loving you Merit yuk! By o Solihin dkk,”). Menemui remaja yang berpacaran disekitar kita, adalah sebuah fenomena biasa dan sangat sering ditemukan. Namun, menemukan seorang remaja 19 tahun (mungkin sudah bisa dikatakan dewasa muda) telah berani berkomitment untuk menikah di usia muda, ini baru luaar biasa!

Cinta kepada lawan jenis? No way!! Bukan karena itu beliau memutuskan untuk nikah. Ketika ditanya: “Ukhti, apakah engkau sangat mencintai calon suamimu itu sehingga memutuskan untuk menikah dini?”(kira-kira demikianlah redaksi pertanyaan yang pernah dilemparkan salah seorang dari Liqo’ kepada ukhti yang satu ini) Tapi ia dengan tegas menjawab : “Aku tidak pernah mencintai seorang lelaki sampai ia mengucapkan ijab-Qobul dan telah resmi menikahiku. Aku hanya akan mencintai lelaki yang menjadi suamiku.

Aku sendiri tidak menyangka akan mengalami atau melalui suatu pernikahan di masa kuliah ini. Tapi, aku sudah mengazamkan dan membulatkan tekad untuk menerima amanah ini. Alasannya kenapa? Karena aku ingin menjaga kehormatann diri dan lebih menjaga hatiku. Dan juga karena aku tidak tahu akan berapa lama usiaku. Aku ingin  sekali mempersembahkan sesuatu untuk Rabbku.

”Subhanallah’’, sungguh suatu jawaban yang sangat sukses membuat hatiku bergetar hebat dan hampir saja meneteskan air mata ketika mendengarnya.
Akankah aku dan para wanita lain mampu berfikir, berkomitment, dan bertindak seperti yang dilakukan oleh se
orang ukhty ini?? Dimana mungkin kita masih belum mampu memeberikan cinta tertinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan kerap kali sering mengobral murah rasa cinta kita untuk sesuatu yang fana yang tak kan pernah menjanjikan syurga dan kebahagiaan di akhirat kelak. Menikah tanpa rasa cinta memang suatu yang mencengangkan. Tapi kok bisa? Karena cinta akan tumbuh setelah seseorang sering bertemu, setelah mereka saling mengenal. Pernikahan bisa menyatukan dua hati. Ah rasanya benar firman Allah dalam surat Ar-Ruum  ayat 21 itu, yang sering dituliskan dalam surat undangan pernikahan : 

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa rasa cinta, kasih saying, perhatian, kepedulian, dan tanggung jawab akan diberikan oleh Allah kepada dua insan yang terikat pernikahan. Meski pada awalnya belum tumbuh rasa cinta kepada pasangannya.

Posted on 15 April 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: