BIMO MANEGES

BIMO MANEGES

By : Kang. Zey

Saduran dari  Pementasan Wayang
Ki. H. Anom Suroto

 

Babak 1

Prabu Duryudana berada di istana bersama dua dayang. Datanglah begawan Durna dengan menyembah Prabu Duryudana dan duduk disampingnya. Paman Sangkuni melaporkan bahwa terjadi pemberontakan oleh salah seorang resi dari wilayah Aldoko. Resi tersebut bernama Resi Gupala. Dikatakan bahwa Resi Gupala membuat padepokan, dimana lama-kelamaan rakyat Astina tidak lagi patuh terhadap pemerintahan Astina. Dan banyak yang pergi ke Resi Gupala. Prabu Duryudana, Begawan Durna serta Paman Sengkuni musyawarah untuk memecahkan masalah tersebut. Mereka mendapatkan solusi yaitu padepokan Resi Gupala harus dimusnahkan.

Tiba-tiba datang orang raksasa yang berpenampilan buruk. Raksasa tersebut digambarkan tua, pucat, menggunakan tongkat (teken) batuk-batuk, meminta mati, baju acak-acakan tidak dihiraukan, ikat pinggang lenggang tidak diperhatikan dan keris terbalikkan dibiarkan. Setelah ditanya ia mengatakan bahwa ia adalah seorang prabu dari Sendro Ujung Laut yang bernama Prabu Kala Teja Lelana. Setelah memerkenalkan diri Prabu Teja Lelana meminta izin kepada Prabu Duryudana agar bisa dipertemukan dengan Begawan Durna. Ia akan mengabdi dan belajar kepada Begawan Durna. Prabu Duryudana mengizinkan dan memertemukannya yang kebetulan Begawan Durna berada disampingnya.

Prabu Teja Lelana merasa senang karena ternyata seorang yang dicari sudah ada didepannya. Begawan Durna langsung menyambut dengan pertanyaan. Apa tujuan sang Prabu sampai-sampai bersikeras untuk belajar kepadanya (Perguruan Suka Lima). Prabu Teja Lelana menyampaikan tujuan mengapa ia akan belajar (nyantrik) kepada Begawan Durna. Ia merasa sudah tua, umurnya tidak lama lagi, tetapi ia belum punya apa-apa untuk bekal menghadap tuhan (dewa). Bahkan dosanya masih menggunung karena ketika masih muda ia telah melakukan banyak kekejian, seperti mo limo, memerkosa, membakar rumah, membuat kekacauan dll. Dia takut dengan siksa neraka, dia yakin akan mendapat ampunan setelah belajar dari Begawan. Dan juga akan mengamalkan ilmunya, dengan cara memberi petunjuk terhadap yang lain. Seberapapun biayanya disanggupi asal dia diterima sebagai murid dan diajari ilmu kesempurnaan.

Begawan Durna mengatakan soal biaya itu harus dan memang syarat belajar adalah jer basuki mawa beya. Begawan Durna mau menerimanya sebagai murid dengan syarat Prabu Teja Lelana bersedia membantu memberantas pemberontakan yang sedang melanda dengan menyerang Res Gupala di wilayah Aldaka. Prabu Teja Lelana menyanggupi dan tanpa berfikir panjang mohon izin dan langsung berangkat. Prabu Duryudana meminta kepada paman Sangkuni dan beberapa prajurit mengikuti dan mengawasi Prabu Kala Teja Lelana.

 

Babak 2

Jenang glali keh gulane ojo lali agamane

Wedang  jahe ge tukat angin

Wis dewu jek pingin kui wong serakah

Bal-balan kaose biru kleru dalan ojo ditiru

 

Canging dan anaknya (Limbuk)

Sang anak mengatakan Polri harus memberi teladan dan mengayomi masyarakat. Seseorang agar dipercaya orang banyak dengan cara :

  1. Harus berani bertanya apa kekurangannya (kredibilitas)
  2. Jujur
  3. Lebih baik diam daripada berbiacara suatu hal yang tidak dimengerti
  4. Mencari ilmu (belajar, diskusi)
  5. Mencari pengalaman
  6. Ibadah (dzikir, berdoa)

 

Babak 3

Di keraton Astina

Sangkuni terdiam di sebuah tempat di Astina. Datang para kurawa, yaitu Dursasana, Durmagati dan Aswatama. Durmagati tanya kepada paman Sangkuni, sebenarnya apa arti dari nama Sangkuni. Sangkuni menerangkan namanya tersebut mengandung makna : Nama aslinya Harya Sumantri Gantalpati Suela Putra yaitu orang yang wasis wicara.

Tanpa ada rasa takut Durmagati menimpali keterangan Sangkuni. Menurutnya Sangkuni itu seperti tumbak (suka mengadu domba, iri, fitnah, dan juga pelit). Lantas Durmagati juga menerangkan : ketika akan berbakti/mengabdi itu harus melihat siapa yang akan disembah. Orang yang akan disembah itu harus “Tua temua, priyai sepuh mentes tenan”. Dan Durmagati juga berani mengkritik Sangkuni dengan pendapatnya bahwa Sangkuni sebagai Patih Asti mempunyai sifat “sepo sepi tur sepah sampun”

  • Sepo artinya makanan yang sudah tidak enak dimakan. Jadi Sangkuni orang yang membuat orang lain tidak enak atau tidak nyaman.
  • Sepi artinya tidak punya lelabuhan (komitmen)

Sangkuni tidak pernah sedekah, zakat, dll

  • Sepah artinya makanan yang sari-sarinya sudah habis dan harus dibuang/dimuntahkan
  • Sampun artinya tidak terus terang

Sangkuni tidak jujur dalam berkata, sering bohong, licik, dll.

 

Mendengar kritikan dari Durmagati tersebut Sangkuni bertanya kepada Dursasana. Dursasanan membela Sangkuni dan mengatakan Durmagati tidak waras sehingga ucapannya tidak perlu didengarkan.

Sangkuni menyuruh Dursasana dan para kurawa mengusir Resi Gupala dari Aldaka. Tetapi Dursasana tidak berani karena ia tahu bahwa Resi Gupala dijaga oleh para keturunan Pandawa seperti Wisanggeni, Gatutkaca, Irawan, Antasena dll. Oleh karena dipaksa maka merekapun mau dan ikut menyerang.

 

Babak 4

Prabu Kala Teja Lelana bersama rombongan dari kurawa berangkat untuk menyerang tempat tinggal Resi Gupala. Pasukan tersebut berangkat dengan berkuda dan gajah.

Di gerbang masuk Aldaka Prabu Kala Teja Lelana bertemu dengan orang tua, dia mengaku sebagai juru kunci di bumi Aldaka. Juru kunci tersebut bernama mayang seto. Ketika Prabu Kala Teja Lelana menyampaikan maksud kedatangannya ia langsung dihadang oleh Mayang Seto. Karena memang Mayang Seto bertugas memertahankan dan menjaga. Prabu Kala Teja Lelana akan membiarka Resi Gupala tetap tinggal di Aldaka dengan syarat Mayang Seto harus dapat menjawab pertanyaan yang akan diajukan.

Pertanyaannya :

“Sopo kang wajib sinembah, ono ngendi dununge kang sinembah, opo syarate panembah, kepiye tatrape panembah kang bener?”

Mayang Setopun dapat menjawab yaitu :

  1. Kang wajib sinembah gusti kang nyipto jagat
  2. Dununge kang sinembah ono ing qalbu mu’min baitullah/telenging ati
  3. Syarate panembah wong-wong kang gelem mbangun watak tama, ikhlas, sabar lan lilo
  4. Sak durunge nyembah ngerti disek sopo ingkang disembah

Rogo, qalbu, cipto, roso

Setelah menjawab pertanyaan Prabu Kala Teja Lelana, Mayang Seto ganti bertanya : “Opo tegese landhep ora natoni, banter ora nglancangi?”

Mendengar pertanyaan tersebut Kala Teja Lelana tertawa dan menganggap bahwa pertanyaannya hanya asal.

Mayang Seto menerangkan :

“Landhep ora natoni tegese pangecape wong wicaksono, ucapan/lisan itu tajam, maka harus hati-hati dalam berucap.”

“Banter ora nglancangi tegese pinter ananging ora keminter. Orang bijaksana tidak sok pandai”.

Mendengar tuturan Mayang Seto ini Prabu Kala Teja Lelana semakin geram dan marah. Dia menendang Mayang Seto sampai lenyap dari hadapannya.

 

Babak 5

Antasena, Gatutkaca dan Wisanggeni berbincang-bincang di Padepokan Resi Gupala. Antasena mengatakan bahwa dahulu Bumi Aldaka ini sepi, tidak ada apa-apa, namun sekarang semenjak ada Resi Gupala menjadi ramai banyak orang berdatangan. Ia khawatir masyarakat menyembah patung Resi Gupala.

Di saat perbincangan tiba-tiba Hanoman datang dengan terengah-engah. Ternyata Hanoman inilah yang telah menjelma menjadi juru kunci (Mayang Seto). Ia melaporkan bahwa di luar datang Raksasa yang bernama Kala Teja Lelana dan akan menghancurkan Padepokan Resi Gupala.

 

Babak 6

Disaat Ontoseno berjalan di depan kediaman Resi Gupala datanglah Suta Ayu dan menantang Ontosena bertarung. Mereka berdua berperang adu kekuatan. Duel diantara mereka terjadi sangat sengit. Pukulan demi pukulan saling mendarat ditubuh mereka. Tendangn Suta Ayu dibalas tendangan lebih keras dari Ontoseno. Akhirnya jurus-jurus Antasena dapat memukul mundur Suta Ayu. Suta Ayu pun lari dari medan laga, namun kali ini nasib Suta Ayu belum beruntung. Setelah mampu dipukul mundur Antasena ia bertemu dengan Hanoman, sehingga pertarungan tidak dapat terelakkan lagi.

Pertarungan antara Suta Ayu dan Hanoman begitu sengit (“munyok ra toto” kata Suta Ayu). Tetapi kekuatan Suta Ayu sudah banyak terkuras oleh pertarungannya dengan Antasena. Lagi-lagi Suta Ayu kalah dalam pertarungan. Kekalahan Suta Ayu memicu datangnya Durmagati. Namun setelah melihat Hanoman yang akan dihadapi Dumagati ketakutan terlebih dahulu dan langsung lari terbirit-birit.

Di lain tempat Gatut Kaca berhadapan dengan Prabu Kala Teja Lelana. Ditengah pertarungan terlontar ucapan Prabu Kala Teja Lelana “ Tiba gelap sayuta bubar maut ”. Pertarungan mereka begitu dahsyat. Akhirnya Gatut Kaca dapat dikalahkan Prabu Kala Teja Lelana. Prabu Kala Teja Lelana dengan tawa khasnya merasa senang atas kemenangannya.

Sangkuni Prabu Kala Teja Lelana beserta prajurit bergegas mendatangi tempat Resi Gupala berada. Begitu terkejutnya mereka ketika melihat bahwa Resi Gupala yang dianggap pemberontak itu wujudnya adalah seonggok patung ( reca/arca ). Lebih heran lagi karena arca tersebut mirip dengan Werkudara atau Bima. Sangkuni memerintahkan prajurit untuk membaca arca tersebut ,namun gagal.

Tidak satupun prajurit dapat mengangkat arca Resi Gupala, walaupun diangkat bersama-sama. Kemudian Prabu Kala Teja Lelana maju dan membacakan sebuah mantera sehingga dengan perlahan patung Resi Gupala mengecil menjadi patung yang sangat kecil, sebesar genggaman. Tanpa kesulitan Prabu Kala Teja Lelana mengangkat patung Resi Gupala dan langsung dibawa pergi untuk menghadap Prabu Duryudana di Astina

 

Babak 7

Di lain tempat, Gareng, Petruk, Bagong sedang berkumpul dan membincangkan tentang situasi saat ini, mengkritik kepada pemerintahan. Termasuk menghujat para pengguna narkoba, pembalak hutan secara liar, korupsi, kolusi dan nepotisme yang sedang melanda pemerintahan (KKN ), orang hanya pasang atribut partai.

 

Ditengah perbincangan Petruk menyeletuk,

Pakailah Garuda Pancasila

Kibarkan bendera Merah Putih di angkasa

Kobarkan semangat persatuan didalam dada

 

Gareng menggemborkan budaya hidup bersih dan budaya hidup sehat. Mereka pun menguraikan makna dari kata Ibu yaitu

I : Iman   B: Budaya    U: Ulahraga,

“ Shodaqoh ora lempoh malah bakate baqoh ”

“ Timbang pager tembok aluwung pager mangkok ”

 

Babak 8

Didalam semedinya, Werkudara mendatangi Betara Bayu. Werkudara merasa menjadi seorang kesatria sehingga ia berkewajiban membela yang benar. Betara Bayu mengatakan “ memang sekarang ini zaman sudah berubah banyak orang yang bertindak seenaknya sendiri. Mereka berlomba-lomba untuk mengibarkan benderanya sendiri-sendiri. Tidak ada lagi persatuan yang terjalin”.

Werkudara merasa bingung dengan keadaan saat ini, sehingga ia mendatangi Betara Ayu untuk meminta petunjuk.

Betara Ayu : “ Hai Werkudara, jangan terkejut dan jangan heran. Sekarang itu pencuri teriak ada pencuri (maling alok maling). Hal itu akibat orang sekarang ini terpengaruh gemerlapnya dunia (kerincinge dunyo).

Jangan terjerumus dengan hal demikian,

Harus ingat “ Tirta pamitra di manding suci ”

Tirta          : banyu            : penghidupan

Pamitra     : bening           : jernih

Di             : adi                 : linuwih

Manding   : menep            : tertutup – mengendap

Suci          : resek              : bersih

Menungsa kuku bisa beningake pikire, menep rasane, pengajap manteb panembang gusti.

Tekune pinembah temah dadi doyo linuwih, ingkang  pundoke kino. Ngresekake reget, ing jiwo manungso.

Hal ini jarang ada orang yang bisa melakukan. Saat ini kebanyakan orang saling bertengkar karena tidak berfikir dulu.

Tiba-tiba dari tubuh Betara Bayu memancar cahaya yang sangat terang dan masuk dalam tubuh Werkudara atau Bima. Cahaya itu yang dinamakan cempoko mulyo, atau anugerah wahyu kamulyan. Dan cempoko mulyo ini hanya dapat dimiliki oleh seseorang yang bersih hatinya, bijaksana, bersih fikirannya.

Betara Bayu mengatakan cempoko mulyo ini diberikan kepada Werkudara sebagai pegangan dalam memimpin dan memberi pengayoman terhadap masyarakat.

“ joyo wijoyo jayanti ngger Brontoseno ! ” kemudian Brotoseno atau Werkudoro pergi menemui Hanoman.

Hanoman menceritakan peristiwa yang terjadi di bumi Al daka kepada Bima. Ia mengatakan bahwa patung Resi gupala ( Raga Bima ) akan dirusak oleh Prabu Kala Teja lelana.

 

Babak 9

Arjuna, Petruk, Bagong, dan Gareng pergi mencari Semar, mereka mendatangi seorang begawan. Ia bernama begawan Suyo Bawono, ia merupakan petapan pusar bumi. Arjuna mengatakan kepada begawan Suyo Bawono bahwa ia ingin berguru kepadanya (pinging Suwito). Ia juga bersedia walaupun hanya dijadikan tukang pencari rumpu. Bagawan pun mengajak mereka pergi.

Di Astina Prabu Duryudana menunggu kedatangan dan kabar dari Prabu Kala Teja Lelana. Tidak lama kemudian sang Prabu yang dinanti-nantikan datang dengan membawa patung Resi Gupala.s eketika itu Prabu Duryudana terkejut melihat patung tersebut, karena mirip dengan Werkudara. Prabu Kala Teja Lelana menawarkan patung tersebut akan diapakan, dibelah atau dipelihara. Prabu Duryudana memberikan pertimbangan agar patung tersebut dibakar saja. Sangkuni langsung menyuruh para kurawa menyiapkan bahan-bahan untuk membakar patung Resi Gupala. Secepat kilat para kurawa menyiapkan kayu dan bahan-bahan untuk membakarnya. Pelan-pelan patung sang resi sudah tidak terlihat karena tertutup oleh kayu. Mereka sudah siap membakar patung Resi Gupala.

Namun, belum sempat api menyentuh kayu tumpukan yang menenggelamkan patung Resi Gupala, cahaya terang (Brontoseno) masuk ke dalam patung Resi/raga Resi Gupala dan patung yang awalnya kecil langsung menjadi besar seperti sedia kala.

Pada kurawa serta prajurit ketakutan dan langsung kabur sendiri-sendiri. Apda saat genting itu datang begawa Suyo Bawono, Arjuna beserta para abdi, mereka saling bertengkar dan perang. Peperangan berlangsung sengit. Saat Begawa Suyo Bawono dan Prabu Kala Teja Lelana perang tiba-tiba Kala Teja Lelana berubah wujud. Ia berubah menjadi seorang yang tua. Ia bernama Tejo Mantri (Togog) melihat hal itu Begawan Suyo Bawono juga berubah. Ternyata Begawan Suyo Bawono adalah jelmaan dari semar.

Mereka berdua bertatap wajah dan keduanya terkejut. Bahwa mereka sudah saling kenal. Bahkan semar memanggil Tejo Mantri dengan panggilan kakang. Semar menanyakan mengapa tejo mantri berubah menjadi raksasa (Prabu Kala Teja Lelana). Tejo Mantri menjelaskan alasannya menjelma menjadi Teja lelana yaitu bertujuan ingin mengetahui dan melihat Begawan Durno dapat mengajari kebaikan atau tidak. Serta telah mengetahui bahwa Duryudana hanya memikirkan duniawi (kadonyan) saja.

Semar juga mengatakan tujuan menjelma menjadi Begawa Suyo Bawono untuk menguji Pandawa bagaimana kepedulian para pandawa terhadap orang lain dan bagaimana melihat hal-hal yang mungkar. Semar mengetahui bahwa para pandawa memang ksatria sejati sampai-sampai semar tidak ada saja masih tetap dicari terutama oleh Arjuna.

Di tempat yang lain Werkudara/Bimo berperang dengan Duryudana. Duryudana mengatakan (kenceng brotoyudho) yaitu perang Baratayuda akan terus terjadi.

Semar : “Werkudara telah maneges untuk memerangi angakra murka melindungi Amarta dan rakyatnya”.

Posted on 16 April 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: