MATINYA SANG KEKASIH

MATINYA SANG KEKASIH

KAHLIL GIBRAN

Sebelum malam tiba tentara musuh sudah melarikan diri dengan luka-luka disekujur tubuh mereka karena tebasan pedang dan tusukan tombak di punggung. Para pahlawan mengubarkan bendera dan menyanyikan lagu kemanangan disela-sela derap sepatu kuda yang menderap di atas bebatuan lembah.

Rembulan malam tengah merayap pelan keluar dari peraduannya di Fam El Mizab. Batu-batu yang keras dan kokoh tampak mendaki bersama semangat rakyat, hutan cedar menghampar laksana meladi kohormatan yang melingkari dada Lebanon.

Mereka terus melanjutkan pawei, sang rembulan tersenyum dia atas senjata-senjata mereka. Dinding-dinding goa memantulkan pujian-pujian dan nyanyian kemenangan hingga mereka mencapai kaki bukit.

Mereka berhenti sejenak di dekat seekor kuda yang meringkik di Aatas bayu kelabuyang seakan dipahat oleh ahlinya.

Tidak jauh dari kuda itu mereka temukan sosok matat, tanah disekitarnya bersimbah darah. Sang panglima pasukan berteriak,

“Tunjukkan kepadaku pedangnya, akan aku katakana pada kalian siapa dia.”

Prajirit-prajurit penunggang kuda turun, mengelilingi mayat, lalu salah seorang dari mereka berkata kepada sang panglima,

“Jari-jarimayat ini sangat kuat sekali memegang pedang. Sulit melepaskannya dari tangannya. Yang lain berkata,

“Pedangnya telah disarungkan pada hidupnya sehingga tidak Nampak lagi.” Yang lain menambahkan,

“Darah di tangan dan yang melekat di gagang pedangnya telah mengental menjadi satu.” Kemudian sang panglima turun, berjalan mendekati mayat itu, ia berkata,

“Angkat kealanya agar sinar bulan menerangi wajahnya supaya kita mengenalinya,”

Salah satu prajirit melakukan yang diperintahkannya. Wajah mayat itu siselubungi cadar kematian. Wajahnya manunjukkan bahwa ia seorang yang gagah berani dan terhormat, seorang penunggang kuda yang hebat dan luar biasa. Wajahnya tampak sedih tetapi menyiratkan kegembiraan, wajah seorang yang sangat bangga setelah bertemu dengan musuh-musuhnya, kemudian bertemu dengan ajalnya sambil tersenyum.

Wajah seorang pahlawan Lebanon yang pada hari itu menjadi saksi atas kemenangan, namun tidak sempat merayakan kemerdekaan dan kemenangan  itu bersama teman-temanya.

Setelah penutup kepalanya dibuka dan wajahnya yang pucat itu dibersihkan dari debu, sang komandan dengan penuh perasaan sedih yang mendalam, berkata keras,

“Dia adalah anak Assaaby, ini adalah kehilangan yang sangat besar!” Seluruh prajurit menguang-ulang namanya sambil berbisik-bisik.Suasana kembali sunyi, dan hati mereka sadar seteah mabuk anggur kemenangan. Mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari kemenangan, yaitu kehilangan seorang pahlawan. Bagai atung-patung pualam, mereka berdiri dalam ketakutan, lidah mereka kelu, tak mampu berkata-kata.

Inilah yang dilakukan oleh kematian jiwa pahlawan. Para wanita memeras air matanya dan meratap pilu, anak-anak mengerang dan meangis. Yang ada hanyalah kesedihan mendalan dan mencekam jiwa bagaikan elang mencengkeram leher mangsanya. Inilah suatu kesenyapan yang penuh dengan air mata dan ratapan memilukan penuh dengan kemalangan. Kesenyapan yang menyebabkan jiwa terbangun dan turun dari puncak gunung-gunung ke dalam ngarai-ngarai. Kesenyapan yang menimbulkan prahara. Dan prahara sendiri tak mampu menampakkan dirinya, karena kesenyapan ini lebih ganas daripada prahara.

Mereka meepaskan pakaian sang pahlawan muda itu untukmemastukan di bagian tubuh yang mana kematian menancapcan kuku besinya. Dadanya robek bagaikan bibir yang menganga, amat tenang, setenang dini hari. Bibir lukanya melafalkan nyali besar sang pahlawan yanga amat mengagumkan.

Sang panglima mendekati mayat itu dan berlutut. Kemudian lebih mendekat lagi, dia melihat sebuah selendang yang disulam dengan benang emas terlilit di lengan pahlawan itu.

Terkesima…!

Dia sangat mengenal siapa yang telah menyulamnya,jari-jemari yang menenunnya. Sang panglima mengambilnya dan menyembunyikan selendang itu di balik bajunya, lalu ia melangkah mundur perlahan sambil menutupi wajahnya dengan tangan gemetar. Tangan yang sebalumnya telah membunuh banyak musuh. Sekarang gemetar menyentuh ujung selendang yang disematkan di tangan pahlawan muda oleh jari-jemari  yang lembut. Selendang yang telah membawa kematian di atas pundak tenmannya. Juwa sang panlima itu terguncang karena tirani kematian telah terkoyak oleh rahsia cinta. Salah seorang prajurit berkata,

“Mari kita gali liang kuburnya di bawah pohon, agar akar pohon meminum darahnya dan agar ranting-rantingnya mendapatkan sari makanan dari tubuhnya. “pohon akan tumbuh kuat dan abadi sebagai penanda bagi bukit dan lembah-lembah atas keberanian dan kegagahannya.” Prajurit lain berkata,

“kita bawa dia ke hutan cadar dan kita kuburkan di dekat gereja. Biarlah pedangnya tetap tenggelam di tangan kanan, kuburkan juga tombaknya di sampingnya, sembelih kudanya dan kuburkan di dekat pusarnya dan biarkan senjata-senjata mwriahkan kesunyiannya.” Tetapi seorang yang lain berkata,

“jangan mengubur pedang yang telah dikotori oleh darah musuh, atau membunuh kuda dari sisa peperangan. Jangan tinggalkan senjata-senjata di hutan belantara, tetapi berikanlah kepada teman-temannya benda-benda itu sebagai kenag-kenangan yang tak terhingga nilainya. “mari kita bersujud disampingnya, dan berdoa keada tuhan, semoga dia mengampuni kesalahannya dan memberkati kemenangan kita.” Prajurit yang lain berkata,

Sebaiknya kita panggul jasad ini. Perisai dan tombak akan kita jadikan kerandanya, lalu kita arak mengelilingi lembah ini sambil menyanyikan lau kemenangan agar bibir luka-lukanya tersenyum sebelum ditelan bumi.” Menyusul prajurit lain yang tidak mau ketinggalan,

“menurutku dia kita berdirikan saja, ganjal tubuhnya dengan tengkorak-tengkorak musuh, kemudian selipkan pedang di pinggangnya, lantas kita bawa ke desa sebagai simbol kemenangan. Dia tidak akan pernah meninggal sampai dapat membunuh musuhnya kembali.” Masih ada yang punya usul lain,

“alangkah arifnya kalau keta semua menguburkannya di kaki gunung ini. Dinding-dinding goa akan menemaninya, gemericik air parit ini menjadi nyanyian yang selalu mengiringinya. “biarkan tulang-tulangnya beristirahat di hutan belantara tempat kemenangan malam yang sepi menjadi penerang yang redup.”

Berbeda dengan kesemuanya tadi seorang prajurit mengusulkan,

“jangan. Jangan tinggalkan dia tempat seperti ini, karena dia akan bosan dan kesepian. Mestinya akan kita baringkan dia di makam sebuah desa, sehingga ruh nenek moyang kita menjadi sahabatnya yang berbicara kepada dia di keheningan malam serta menceritakan jalannya peperangan dan kemenangan yang suci.” Akhirnya sang panglima maju dan merekapun terdiam. Dia menarik nafas dan berate,

“jangan mengganggu dia dengan kenang-kenangan perang karena telinga jiwanya akan terngiang-nguang. “Jiwanya akan melayang-layang di atas kita dan di atas cerita tentang pedang ataupun tombak. Lebih baik kita bawa dia ke tempat kelahirannya tempat sebuah jiwa yang damai telah menanti kedatangannya, jiwa seorang gadis yang selalu menunggu kepulangannya dari medan perang. Mari kita kembalikan kepadanya sehingga gadis itu tidak lagi terbayamg-bayang akan wajahnya dan kecupan terakhir di keningnya.”

Kemudia mereka memanggulnya, berjalan membisu dengan kepala tunduk dan sorot mata putus asa. Kuda sang pahlawan terluhat murung dan tertatih-tatih mengukuti mereka dibelakang, sementara itu pakaian sang pahlawan terserat menyapu tanah. Sang kuda terus meringkik, segera dinding-dinding goa memantulkannya, seolah hatinya turut membagi duka cita. Melalui jalan setapak di lembah yang penuh onak-duri dan disinari terang bulan penuh, upacara kemenangan beriring arak-arakan kematian.

Ruh cinta membimbing perjalanan ini sambil menyeret sayapnya yang telah patah.

Posted on 16 April 2013, in Artikel, KISDA. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: