Metodologi Tafsir Muqorrin dan Maudhu’i

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Mentafsirkan Al Qur’an bukanlah perkara mudah, tidak semua umat Islam mampu mentafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan baik, oleh karena itu dibutuhkan sebuah metode penafsiran sebagai sarana yang amat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mengetahui apa yang dimaksudkan Allah dalam ayat – ayat Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Jika ditelusuri perkembangan tafsir al qur’an, akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran Al Qur’an dilakukan dengan empat metode yaitu,; Ijmali (global), Tahlili (analitis), muqorrin (perbandingan), dan maudu’i (tematik). Nabi dan para sahabat mentafsirkan Al Qur’an  secara Ijmalim, tidak memberikan rincian yang mendetail. Dikarenakan pemahaman para sahabat tentang tata bahasa arab sangat baik, sehingga Nabi tidak perlu memperinci penjelasan para sahabat sudah memahami. Dan ini adalah metode penafsiran Al Qur’an yang pertama, seiring pekembangan zaman dengan kemajemukan umat Islam dan didominasi oleh orang-orang non Arab, maka muncullah metode-metode baru dalam penafsiran Al Qur’an yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kehidupan umat yang semakin beragam, maka muncullah metode yang lebih terperinci yaitu tahlili (analitis). Kemudian disusul dengan metode-metode setelahnya yaitu, metode muqorrin (perbandingan), karena semakin berkembangnya zaman permasalahan kehidupan berbeda jauh dengan generasi terdahulu, seperti mobilitas yang tinggi, perubahan situasi yang sangat cepat, dan lain-lain. Untuk menanggulangi itu para ulama tafsir abad modern menawarkan tafsir dengan metode baru, yaitu metode maudhu’i  (tematik). Dengan metode ini tidak perlu menghabiskan waktu untuk membaca kitab-kitab besar cukup membaca tafsir tematik tersebut selama permasalahan yang akan di pecahkan dapat dijumpai dalam kitab tafsir itu.

  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian metode muqorrin dan maudhu’i ?
    2. Bagaimana ciri – ciri metode muqorrin dan maudhu’i ?
    3. Apa saja ruang lingkup, kelebihan, kekurangan, dan urgensi metode muqorrin dan maudhu’i ?

 

PEMBAHASAN

 

A.  Metode Komparatif ( Muqorrin )

  1. A.    Pengertian

Dalam metode ini para ulama tafsir tidak berbeda pendapat, dari berbagai litaratur yang ada dapat dirangkum bahwa  metode komparatif ( Muqorrin ) adalah[1] :

  1. Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi satu kasus yang sama.
  2. Membandingkan ayat Al Qur’an dengan hadist yang pada lahirnya terlihat bertentangan;
  3. Dan membandingkan pendapatt para ulama tafsir dalam menafsirkan Al Qur’an.[2]

Dari definisi diatas terlihat jelas bahwa dalam metode ini mempunyai cakupan yang sangat luas dalam menafsirkan Al Qur’an, tidak hanya membandingkan antara ayat dengan ayat, tetapi juga dengan hadist dan juga dengan pendapat para mufassir dalam menafsirkan ayat.

Wilayah kajian dalam masing-masing aspek itu berbeda-beda. Ada yang berhubungan dengan kajian redaksi dan kaitannya dengan konotasi kata atau kalimat yang dikandungnya. Berikut wilayah bahasan aspek pertama dan kedua, M. Quraish Shihab menjelaskan

“ Dalam metode ini khususnya yang membandingkan antara ayat dengan ayat ( juga ayat dengan hadist)………..

Biasanya mufassirnya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kandungan yang dimaksud oleh masing-masing ayat/perbedaan kasus/masalah itu sendiri.”

Dari pennjelasan di atas dapat dipahami bahwa kajian perbandingan ayat tidak terbatas di analisis redaksional (mubahits lafzhiyaah), melainkan mencakup perbandingan makna dan kasus .

Dalam membahas perbedaan tersebut paara mufassir harus meninjau dari berbagai aspek yang menimbulkan perbedaan, seperti asbab alnuzul, pemakain dan sususan kataa, konteks dan situasi umat ketika ayt itu turun.

Aspek ketiga perbadingan pendapat para ulama tafsir ruang lingkupnya sangat luas, karena mencakup  kandungan maupun korelasi (munasabat) antara ayat  dengan ayat maupun surat dengan surat. Jadi objek pembahasan wilayah ketiga ini adalah berbagai pendapat para mufassir dan membandingkanya. Sedangkan dalam aspek pertama dan keedua tadi adalah membandingkan dengan ayat lain ataupun dengan hadist yang kelihatan lahiriyah dan kontradiktif.

  1. B.     Ciri-Ciri Metode Komparatif ( Muqorrin )

Perbandingan adalah ciri utama metode ini, ini menjadikan metode ini berbeda dengan metode-metode yang lain, ini disebabkan karena objek pembahasan dalam metode ini adalah membandingkan antara pendapat para mufassir. Seperti yang disebutkan dalam uraian diatas pendapat para mufassir lah yang menjadi sasaran perbandingan. Oleh karena itu jika perbandingan dilakukan dengan tidak melakukan perbandingan pendapat para mufassir maka pola seperti itu tidak bisa disebut “ Metode Komparatif (Muqorrin)”. Dalam konteks ini            Al Farmawi menyatakan bahwa “ Muqorrin adalah menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an yang berdasarkan pada apa yang telah ditulis oleh sejumlah mufassir”. Untuk mencapi tujuan iini adalah dengan memusatkan pada ayat tertentu yang akan dibahas dan melacak pendapat ulama tafsir  baik yang klasik (salaf) maaupun ulama khalaf, serta membandingkan untuk mengetahui kecenderungan mereka, aliran-aliran yang mempengaruhi mereka serta keahlian yang mereka kuasai, dan lain sebagainya. Dari uraian diatas terdapat tiga aspek kajian yaitu, perbandingan ayat dengan ayat, perbandingan ayat dengan hadis, dan perbandingan antara pendapat para Ulama Tafsir dalam menafsirkan ayat Al Qur’an.[3]

  1. C.    Ruang Lingkup Metode Komparatif (Muqorrin)
    1. Perbandingan Ayat dengan Ayat

Dalam aspek ini bisa dipakai dalam semua ayat, baik pemakaian mufrodat, urutan kaata maupun kemiripan redaksi. Ini bisa dilakukan jika yang dibandingkan adalah kemiripan redaksi.

Maka langkah-langkahnya adalah :

a) Menghimpun dan mengidentifikasi ayat Al Qur’an yang redaksinya mirip sehingga diketahui mana yang mirip dan mana yag tidak. b) membandingkan ayat yag redaksinya bermiripan dan membicarakan satu atau dua kasus yang berbeda dan redaksinya sama. c) mennganalis perbedaan didalam berbagai redaksi yang mirip. d) membandingkan dengan pendapat para mufassir tentang ayat yang dibahas.

  1. Perbandingan Ayat dengan hadist

Dalam aspek ini tidak semua ayat Al Qur’an dibandingkan dengan hadist, hanya hadist yang tampak bertentangan dengan yang ayat Al Qur’an  yang diyakini shahih. Untuk hadist dho’if tidak perlu dibandingkan karena level dan kondisi keduanya yang tidak seimbang. ini dapat ditempuh dengan langkah-langkah ;

a)Menghimpun ayat yang tampak bertentangan dengan Hadist Nabi SAW walaupun mempunyai redaksi yang mirip dengan ayat lain. b) membandingkan dan menganalisis teks yang bertentangan antara ayat dan hadist itu; c) membandingkan degan pendapat mufassir dan kemudian menafsirkan ayat tersebut.

  1. Perbandingan Pendapat Mufassir

Dalam aspek ini akan dijumpai berbaggai macam cara penafsiran para mufassir yang berbeda karena dipengaruhi latar belakangnya; a. Ibnu Katsir “Penafsiranya didominasi dengan riwayat, ia menggunakan metode analitis,dikarenakan latar belakang Ibnu katsir adalah seorang ahli hadist dan sejarawan, sehingga pemikiranya selalu berhubungan dengan fakta dan sejarah”

b. Ibnu Taymiyah; “Penafsiranya didominasi oleh pemikiran-pemikiran teologis dari berbagai ,aliran, kemudian ditutup dengn pendapat para sahabat,tabi’in, imam-imam madzab sebagai dukungan argumen yang diajukan.

c. Abu Hayyan; “Penafsiran dengan cara pendekatan bahasa, jadi hampir keseluruhan penafsiran Abu hayyan dilalukan dengan pendekatan kebahasaan, walaupun ada sebagian yang mengguunakan pemikiran teologis.[4]

  1. D.    Kelebihan dan Kekurangan Metode Komparatif ( Muqorrin )[5]
    1. Kelebihan

Diantara kelebihan metode ini adalah;

  1. Memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada para pembaca dibandingkan dengan metode – metode yang lain.
  2. Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang berbeda dengan kita.
  3. Mengetahui beraneka ragam pendapat suatu ayat, sehingga bermanfaat untuk memperluas dan mendalami penafsiran ayat.
  4. Mendorong para mufassir untuk mengkaji berbagai ayat dan hadist serta pendapat para mufassir yang lain.
  5. Kekurangan;
    1. Metode ini tidak bisa diterapkan kepada para pemula, karena pembahasan didalamnya terlalu luas dan kadang ekstrim.
    2. Tidak dapat diandalkan untuk menjawab berbagai masalah sosial yang muncul dimasyarakat, karena lebih mengutamakan perbandingan dari pada pemecahan masalah.
    3. Lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh ulama dari pada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru
    4. E.     Urgensi Metode Komparatif

Tafsir dengan metode komparatif sangatlah penting terutama bagi mereka yang ingin melakukan study lanjut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dengan penafsiran suatu ayat. Dalam era sekarang metode ini sangat dibutuhkan masyarakat, dikarenakan timbulnya berbagai aliran – aliran yang kadang auh keluar dari pemahaman Islam. Dengan demikan metode ini amat penting posisinya, terutama untuk mengembangkan pemikiran tafsir, yang rasional dan objektif sehinga mengetahui lahirnya suatu penafsiran dan dapat dijadikan perbandingan dan pelajaran untuk pengembangan tafsir periode selanjutnya.

B. Metode Tematik ( Maudhu’i )

  1. A.    Penger tian

Tafsir Maudhu’i menurut pengertian istilah para ulama adalah                      “ menghimpun seluruh ayat Al Qur’an yang memiliki tujuan dan tema yang sama kemudian berdasarkan sebab sebab turunya – kalau ada –. Kemudinan menguraikannya dengan menjelajah seluruh aspek yang dapat digali hasilnya diukur dengan teori-teori akurat sehingga si mifassir dapat menyajikan tema secara utuh dan sempurna[6].  Semua ayat yang berkaitan dihimpun dan dibahas secara mendalam dari berbagai aspek, seperti asbab al-nuzul, kosakata, dan sebagainya. Serta didukung oleh dalil-dalil dan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari Al Qur’an, hadist maupun pemikiran rasional.[7]

  1. B.     Ciri-Ciri Metode Tematik (Maudhu’i)

Ciri utama metode iini adalah lebih menonjolkan tema dan judul atau topik pembahassan, sehingga metode ini disebut juga metode topikal.

Langkah-langkah penerapan metode ini menurut  Al Farmawi adalah[8];

  1. Menghimpun ayat yang berkaitan dengan judul sesuai urutan turunya.
  2. Menelusuri asbab al nuzu ayat – ( bila ada )
  3. Meneliti dengan cermat semua kata dan kalimat yang di pakai dalam ayat tersebut, terutam kosa kata yang menjadi pokok permasalahan didalam ayat tersebut.
  4. Mengkaji ayat tersebut dari semua pemahaman aliran-aliran dan pendapat para mufassir baik klasik maupun kontemporer.
  5. Semua dikaji dengan tuntas dan seksama menggunakan penalaran yang objektif melalui kaidah tafsir yang mu’tabar, serta didukung oleh dalil-dalil dan fakta – ( kalau ada ) dan argumen-argumen Al Qur’an, hadist dan fakta-fakta sejarah yang dapat ditemukan.
    1. C.    Kelebihan dan kekurangan Metode Tematik

a. Kelebihan[9]

  1. Menjawab tantangan zaman
  2. Praktis dan sistematis
  3. Dinamis
  4. Membuat pemahaman menjadi utuh.

b. Kekurangan

  1. Memenggal ayat Al Qur’an
  2. Membatasi terhadap pemahaman ayat.
  3. D.    Urgensi Metode Tematik

Diawal tadi telah disinggung bahwa metode ini lebih dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan yang ada dimuka bumi ini. Artinya metode ini sangat berpengaruh besar dalam kehidupan umat agar mereka dapat terbimbing kejalan yang benar sesuai dengan maksud diturunkanya Al-Qur’an. Berangkat dari pemikiran yang demikian, maka kedudukan metode ini semakin kuat didalam khazanah intelektual Islam. Oleh karenanya  metode ini perlu dipunyai oleh para ulama, khususnya kepada mufassir dan para calon mufassir.

Kesimpulan

  1. Metode Komparatif (Muqorrin ) adalah metode perbandingan antara ayat dengan ayat, ayat dengan hadist, dan pendapat para ulama
  2. Perbandingan adalah ciri utama metode Muqorrin, karena objek pembahasan adalah membandingkan antara pendapat para mufassir.
  3. Metode komparatif sangat penting bagi para study lanjut untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas, karena metode ini membandingkan pendapat-pendapat para mufassir.
  4. Metode Tematik (Maudhu’i ) adalah membahas ayat Al Qur’an sesuai dengan judul dan tema yang telah ditentukan.
  5. Ciri utama metode iini adalah lebih menonjolkan tema dan judul atau topik pembahassan, sehingga metode ini disebut juga metode topikal.
  6. metode ini sangat berpengaruh besar dalam kehidupan umat agar mereka dapat terbimbing kejalan yang benar sesuai dengan maksud diturunkanya Al-Qur’an

DAFTAR PUSTAKA

 

Baidan, Nasruddin,Metodologi Penafsiran Al Qur’an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005

Quthan, Mana’ul, Pembahasan Ilmu Al Qur’an 2, Jakarta, RINEKA CIPTA, , 1995,

Anwar, Rosihon, Metode Tafsir Maudhu’i, Bandung, PUSTAKA SETIA, 2002

Syadali, Ahmad – Rofi’i, Ahmad, Ulumul Qur’an II, Bandung, PUSTAKA SETIA, 1997

Baidan, Nashruddin,  Metode Penafsiran Ayat-Ayat yang beredaski mirip di dalam Al Qur’an, Pekanbaru, Fajar Harapan, cet. Ke-2, 1993


[1] Nasruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al Qur’an ( Pekanbaru: Pustaka Pelajar, 2005), 65.

[2] Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Ayat-Ayat yang beredaski mirip di dalam Al Qur’an (Pekanbaru: Fajar Harapan, cet. Ke-2, 1993), 83.

[3] Nasruddin Baidan,Metodologi Penafsiran Al Qur’an (Pekanbaru: Pustaka Pelajar, 2005), 13.

[4] Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Al Qur’an 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 184.

[5] Nasruddin Baidan,Metodologi Penafsiran Al Qur’an (Pekanbaru: Pustaka Pelajar, 2005), 70.

[6] Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’i (Bandung:Pustaka Setia, 2002), 43.

[7] Ahmad Syadali, Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an II (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 67.

[8] Ibid, Hlm. 70

[9] Nasruddin Baidan,Metodologi Penafsiran Al Qur’an (Pekanbaru: Pustaka Pelajar, 2005), 80.

Posted on 22 April 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: