Sahkah Hukumnya Sedekah Orang yang Sedang Berhutang?

zakat1

Sahkah Hukumnya Sedekah Orang yang Sedang Berhutang? Kewajiban Apa Saja yang Gugur dari Orang yang Berhutang?

Jawaban:

Sedekah merupakan bagian dari infaq yang diperintahkan secara syariat. Begitu juga berbuat baik kepada hamba-hamba Allah jika mampu melakukannya. Manusia akan mendapatkan ganjaran karenanya dan setiap orang akan bernaung di bawah sedekahnya pada hari kiamat. Sedekah dapat diterima disisi Allah, baik orang yang bersedekah itu mempunyai hutang maupun tidak jika memenuhi syarat-syarat diterimanya sedekah, yaitu ikhlas karena Allah, diambil dari hasil kerja yang baik, dan mengenai sasaran. Jika syarat-syarat itu terpenuhi maka sedekahnya diterima menurut dalil-dalil syariat dan tidak ada syarat bahwa untuk bersedekah seseorang tidak mempunyai hutang, tetapi jika hutang itu telah menelan seluruh apa yang dimilikinya, maka bersedekah baginya bukan satu tindakan yang bijak dan tidak masuk akal untuk bersedekah-padahal sedekah hukumnya sunnah dan bukan wajib- sementara dia meninggalkan pembayaran hutang yang diwajibkan kepadanya. Mestinya dia harus memulai dulu dari yang wajib kemudian baru bersedekah.

 

Para ahlu ilmi berselisih pendapat tentang orang yang bersedekah sementara orang itu memiliki hutang yang sangat banyak yang menelan seluruh hartanya. Di antara merreka ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan, karena membahayakan orang yang menghutanginya dan melanggengkan keterpurukannya dalam menanggung hutang yang wajib dibayar. Sebagian lain berpendapat, boleh tetapi hal itu bertentangan dengan keutamaan.

Yang jelas, bahwa orang yang berhutang hingga hutangnya menelan seluruh hartanya tidak sepantasnya untuk bersedekah hingga dia menyelesaikan hutangnya, karena sesuatu yang wajib didahulukan dari yang sunnah.

Sedangkan hak-hak syareat yang gugur dari orang-orang yang berhutang hingga dia dapat menunaikan hutangnya adalah:

Haji. Haji tidak wajib bagi orang yang berhutang hingga dia dapat membayar hutangnya.

Sedangkan zakat, para ulama berselisih pendapat, apakah kewajiban zakat gugur bagi orang yang berhutang ataukah tidak?

Di antara ahlul ilmi ada yang berpendapat bahwa kewajiban zakat gugur bagi orang yang hartanya sama banyaknya dengan hutangnya, baik harta itu tampak maupun tidak tampak

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kewajiban zakat tidak gugur darinya, tetapi dia harus menzakati semua harta yang ada ditangannya dan jika dia mempunyai hutang maka dikurangi nisabnya.

Di antara mereka ada yang merincinya seraya berpendapat: jika harta itu berupa harta yang tersembunyi yang tidak dilihat dan tidak bisa disaksikan, seperti uang dan barang dagangan, maka kewajiban zakatnya gugur jika jumlah harta itu menyamai besarnya hutang. Tetapi jika harta itu tampak, seperti biji-bijian dan barang-barang tambang yang keluar dari bumi, maka kewajiban zakat tidak gugur darinya.

Yang benar menurut saya bahwa kewajiban zakat tidak gugur baik dia mempunyai harta yang tampak maupun tidak tampak dan setiap orang yang memegang harta yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya, harus menunaikan zakatnya walaupun dia berhutang. Demikian itu karena zakat diwajibkan pada harta, seperti yang difirmankan Allah, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(At-taubah:103)

Juga karena sabda Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam kepada Mu’adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman, “Ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) kepada mereka yang diambil dari harta orang-orang kaya di antara mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”(Muttafaq ‘Alaihi).

Dengan adanya dalil dari Al-Kitab dan Sunnah ini jelaslah bahwa tidak ada pertentangan antara zakat dan hutang karena hutang wajib berdasarkan tanggung jawab sedangkan zakat adalah kewajiban pada harta. Jadi tiap-tiap bagian dari keduanya diwajibkan karena objek tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tidak ada pertentangan antara keduanya, karena kewajiban membayar hutang itu dibebankan kepada pemiliknya sedangkan kewajiban zakat dibebankan kepada harta yang harus dikeluarkan zakatnya bagaimanapun keadaannya.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa Arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 448

Posted on 3 November 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: